Jakarta, 12 Juli 2025 — Kinerja ekspor biji kakao Indonesia menunjukkan tren positif sepanjang 2024. Kementerian Perdagangan mencatat, nilai ekspor biji kakao nasional mencapai USD 1,12 miliar, naik sekitar 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan permintaan dari negara-negara pengolah cokelat seperti Amerika Serikat, Belanda, dan Malaysia.
Meskipun volume dan nilai ekspor meningkat, sebagian besar ekspor masih dalam bentuk biji mentah (raw beans), yang memiliki nilai tambah rendah. Isu hilirisasi kakao kembali mencuat sebagai pekerjaan rumah besar bagi pemerintah dan pelaku industri dalam negeri.
Negara Tujuan Ekspor Didominasi Industri Pengolahan Global
Negara-negara tujuan ekspor utama biji kakao Indonesia pada 2024 adalah:
- Amerika Serikat (USD 350 juta)
- Belanda (USD 210 juta)
- Malaysia (USD 175 juta)
- Jerman dan India turut mencatat pertumbuhan impor signifikan.
Sebagian besar biji kakao tersebut kemudian diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti cokelat batangan, bubuk kakao dan produk konfeksioneri untuk pasar premium.
“Indonesia punya potensi besar sebagai produsen kakao, tapi saat ini kita masih menjadi pemasok bahan baku untuk industri negara lain,” ungkap Ratna Prameswari, analis komoditas dari IndoCacao Research Center.
Hilirisasi Kakao: Jalan Menuju Daya Saing Global
Meskipun ekspor mentah tumbuh, sektor hilirisasi kakao nasional masih tertinggal. Data Gabungan Asosiasi Kakao Indonesia (GAKINDO) mencatat hanya sekitar 30 persen biji kakao Indonesia yang diolah di dalam negeri, sisanya diekspor dalam bentuk mentah.
Padahal, nilai jual kakao olahan bisa meningkat hingga 4 kali lipat dibanding biji mentah. Minimnya investasi di sektor pengolahan, keterbatasan teknologi dan rantai pasok yang belum efisien menjadi hambatan utama.
“Hilirisasi tidak hanya soal mesin dan pabrik, tapi juga soal konsistensi pasokan, pelatihan SDM, dan akses pasar ekspor produk jadi,” kata Bambang Irawan, Ketua GAKINDO.
Peluang Pasar Produk Cokelat Global Masih Terbuka
Menurut laporan dari International Cocoa Organization (ICCO), pasar cokelat global diperkirakan tumbuh sebesar 5,6 persen per tahun hingga 2030, didorong oleh permintaan dari Asia Pasifik dan Eropa. (Admin)
