Altura Horizon

+62 8128 008 0275

Ekspor Kopi Indonesia 2024 Tembus USD 1,63 Juta, Hilirisasi Masih Jadi Tantangan

Jakarta, 12 Juli 2025 — Di tengah tekanan ekonomi global, sektor kopi Indonesia mencatat kinerja ekspor yang mengesankan. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor kopi Indonesia melonjak hingga 76,33 persen sepanjang 2024. Total transaksi mencapai USD 1,638 juta, naik signifikan dari USD 929 ribu pada tahun sebelumnya.

Pertumbuhan ini mencerminkan kebangkitan sektor perkebunan rakyat, terutama dari provinsi penghasil utama seperti Lampung, Sumatera Utara, Jawa Timur dan Aceh, yang menjadi tulang punggung ekspor kopi nasional ke pasar internasional.

“Permintaan global terhadap kopi Indonesia, khususnya dari Amerika Serikat dan Timur Tengah, terus meningkat. Ini membuktikan bahwa kopi Indonesia memiliki daya saing dari sisi kualitas maupun harga,” kata Dedi Mulyadi, Direktur Ekspor Pertanian di Kementerian Perdagangan saat Forum Perdagangan Global di Jakarta, Jumat (11/7).

Amerika Serikat dan Mesir Jadi Pasar Utama Ekspor Kopi

Amerika Serikat menempati posisi teratas sebagai negara tujuan ekspor, menyerap kopi Indonesia senilai lebih dari USD 307 juta sepanjang 2024. Di sisi lain, Mesir menunjukkan lonjakan tajam dengan impor mencapai USD 142,5 juta, menjadikan Indonesia sebagai eksportir kopi robusta terbesar ke negara tersebut.

Selain itu, negara-negara seperti Belgia, Rusia dan Malaysia turut masuk dalam lima besar pasar tujuan ekspor kopi Indonesia, menandakan adanya diversifikasi pasar yang positif.

Tantangan: Impor Kopi Mentah Masih Tinggi

Di balik peningkatan ekspor, tantangan struktural masih membayangi. Meskipun Indonesia dikenal sebagai produsen kopi utama dunia, negara ini masih mengimpor kopi mentah dari Vietnam, Brasil dan Malaysia. Pada 2024, nilai impor kopi tercatat mencapai USD 186 juta, sebagian besar berupa green bean untuk keperluan industri pengolahan dalam negeri.

Retno Ayu, pengamat dari Lembaga Riset Perkebunan Nusantara (LRPN), menyoroti ketidakseimbangan ini.

“Indonesia memang mampu mengekspor kopi mentah, namun belum optimal dalam mengolah kopi di dalam negeri. Hilirisasi menjadi kunci untuk menciptakan nilai tambah dan menyerap tenaga kerja,” jelasnya.

Tren Positif Ekspor Kopi Olahan

Meski ekspor kopi mentah masih mendominasi, tren ekspor kopi olahan seperti kopi sangrai, instan dan ready-to-drink (RTD) menunjukkan perkembangan menggembirakan. Negara-negara seperti Filipina, Malaysia dan Uni Emirat Arab menjadi pasar utama produk kopi olahan asal Indonesia.

Menurut data Kementerian Perdagangan, nilai ekspor kopi olahan pada 2024 mencapai USD 348 juta, naik 22 persen dibanding tahun sebelumnya. Hal ini membuka peluang besar bagi penguatan industri hilir dan branding produk kopi Indonesia secara global.

Hilirisasi Jadi Kunci Daya Saing Global

Pelaku industri kopi menyambut positif peningkatan ekspor, namun mengingatkan pentingnya pembenahan di sektor hulu, seperti regenerasi petani, peremajaan tanaman, serta akses terhadap teknologi pascapanen.

Bambang Pramudyo, Ketua Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI), menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah, petani dan pelaku usaha.

“Kalau ingin menjadi pemain global yang berdaya saing, kita harus berhenti menjual kopi sebagai komoditas mentah. Saatnya kopi Indonesia dikenal lewat kualitas, merek dan ceritanya,” tegasnya. (Admin)