Altura Horizon

+62 8128 008 0275

Pasar Afrika Jadi Target Baru Ekspor Biji Kakao Indonesia

Jakarta, 12 Juli 2025 — Pemerintah Indonesia mulai melirik pasar Afrika sebagai tujuan ekspor baru untuk komoditas biji kakao. Langkah ini menjadi bagian dari upaya diversifikasi pasar ekspor, menyusul melambatnya permintaan dari beberapa negara Eropa akibat ketegangan geopolitik dan penurunan konsumsi.

Kementerian Perdagangan mencatat volume ekspor biji kakao ke kawasan Afrika, khususnya Ghana, Nigeria, dan Mesir, meningkat sebesar 28 persen dalam enam bulan pertama 2025. Negara-negara tersebut membutuhkan biji kakao berkualitas sebagai bahan campuran produksi dalam negeri atau untuk re-ekspor.

“Pasar Afrika memiliki potensi besar dan belum tergarap optimal. Dengan kualitas kakao Indonesia yang stabil dan kompetitif, ekspansi pasar ini bisa meningkatkan ketahanan ekspor nasional,” ujar Dini Lestari, Direktur Pengembangan Ekspor Pertanian.

Ekspor ke Afrika Tumbuh, Eropa Melambat

Ekspor ke Afrika menunjukkan tren positif, permintaan dari beberapa negara Eropa mengalami penurunan. Hal ini dipicu oleh faktor inflasi, penurunan daya beli, serta kebijakan lingkungan baru Uni Eropa yang memperketat impor produk pertanian yang tidak berkelanjutan.

Sebaliknya, negara-negara Afrika mulai membangun kapasitas industri pengolahan cokelatnya, meskipun masih terbatas. Kakao Indonesia, terutama dari Sulawesi dan Sumatra, dinilai cocok untuk dicampur dengan kakao lokal Afrika yang cenderung lebih asam.

“Mereka tidak hanya mencari harga murah, tapi juga profil rasa khas dan kadar lemak tertentu. Kakao Indonesia bisa memenuhi spesifikasi itu,” jelas Hafid Maulana, eksportir kakao dari Makassar.

Indonesia Perlu Antisipasi Kompetisi Regional

Meskipun peluang di Afrika terbuka lebar, Indonesia tetap harus mewaspadai kompetitor utama seperti Pantai Gading, Ghana dan Nigeria, yang merupakan tiga produsen kakao terbesar dunia. Ketiganya memiliki akses pasar domestik dan regional yang kuat, serta dukungan infrastruktur ekspor yang lebih matang.

Untuk bisa bersaing, pelaku usaha Indonesia perlu memperkuat:

  • Sertifikasi mutu dan ketelusuran produk (traceability)
  • Kecepatan pengiriman
  • Konsistensi suplai dari petani kakao dalam negeri

Hilirisasi Tetap Jadi Kunci Jangka Panjang

Meski ekspor biji kakao ke pasar baru seperti Afrika tumbuh, para pengamat menekankan bahwa hilirisasi kakao di dalam negeri tetap harus menjadi prioritas. Tanpa pengolahan lokal, Indonesia akan terus kehilangan nilai tambah dari komoditas strategis ini.

“Ekspor mentah memang cepat menghasilkan devisa, tapi jangka panjangnya kita butuh industri pengolahan agar tidak selalu bergantung pada harga pasar global,” kata Dewi Pranata, peneliti agribisnis dari Universitas Andalas. (Admin)